Fakta Unik dan Serba-Serbinya Pilkada Serentak 2018

Di tahun 2018,  27 Juni 2018 (esok) kita jumpa lagi dengan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Kali ini 171 daerah akan menentukan pemimpin mereka. Sebagai anak muda, jangan sampai kamu apatis atau bersikap masa bodoh. Jangan juga reaktif, mudah terprovokasi, apalagi sampai ikutan sebar-menyebar hoax. Ish!

Perkaya pengetahuan kamu dengan berbagai fakta dan informasi seputar pilkada. Seperti rangkuman berikut ini.

  • Pilkada pertama kali berlangsung tahun 2005 berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Sebelumnya, kepala daerah nggak dipilih langsung, melainkan ditunjuk oleh DPRD.
  • Kenyataannya, pilkada nggak berlangsung serentak-serentak banget di seluruh nusantara, melainkan dibagi menjadi 3 gelombang. Yang terbaru adalah akhir tahun 2015, Februari 2017, dan pilkada tahun ini yang berlangsung 27 Juni 2018. Soalnya, masa akhir jabatan kepala daerah berbeda-beda. Pemilu tahun ini, misalnya, untuk wilayah yang kepala daerahnya berakhir masa jabatan pada tahun 2018 dan 2019.
  • Pilkada 2018 diikuti 17 provinsi yang memilih calon gubernur/wakil, serta 154 kotamadya dan kabupaten yang memilih calon walikota serta bupati dan wakilnya.
  • Banyak pilkada yang diikuti 2-5 calon kepala daerah. Namun, tahun ini ada dua daerah yang memiliki pasangan calon terbanyak, yaitu kabupaten Pania (Papua) dan Palangkaraya (Kalteng). Masing-masing diikuti 8 pasangan calon kepala daerah.
  • Sebaliknya ada 11 daerah yang hanya memiliki calon tunggal, alias calonnya cuma sebijik eh sepasang, yaitu Padang Lawas Utara, Prabumulih, Pasuruan, Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Tapin, Minahasa Tenggara, Enrekang, Mamasa, serta Jayawijaya.
  • Apakah calon tunggal otomatis bakalan menang? Nggak juga, gaes. Mereka harus melawan kotak kosong. Apa pula itu? Di hari H, paslon ini akan diadu dengan pilihan kosong. Jadi para pemilih bisa mencoblos calon pasangan atau kotak kosong. Untuk memenangkan pilkada, pasangan calon harus meraih suara di atas 50 persen, mengalahkan ‘si kotak kosong’. Kalau nggak memenuhi syarat, menurut KPU nantinya akan diadakan pemilihan ulang.
  • Persyaratan calon Gubernur/Walikota/Bupati antara lain pendidikan terakhir minimal SMA atau sederajat. Kemudian, untuk calon gubernur berserta wakil minimal berusia 30 tahun, sedangkan untuk calon walikota/bupati beserta wakil minimal berusia 25 tahun.
  • Untuk daerah dengan calon kepala daerah lebih dari 1, yang mengumpulkan pemilih terbanyak akan menang. Nggak ada tuh, syarat jumlah suara minimal. Jadi, pilkada hanya berlangsung satu putaran…. kecuali di DKI Jakarta.
  • Yup, khusus Jakarta ada aturan tersendiri. Di Jakarta, untuk bisa menang, paslon harus mengantongi lebih dari 50 persen suara. Kalau tidak sampai, maka akan digelar pemilihan putaran ke-2 seperti yang terjadi tahun 2017 dan 2012 lalu.
  • Dari 1,024 calon kepala daerah dan wakil pada pilkada 2018 yang dinyatakan memenuhi syarat, hanya 47 calon gubenur/walikota/bupati yang perempuan. Sedangkan untuk calon wakil, hanya tercatat 47 nama perempuan. Secara keseluruhan calon perempuan hanya sekitar 8 persenan.
  • Dari 566 pasangan yang terdaftar di pilkada 2018, 126 di antaranya merupakan pasangan perseorangan alias independen. Dengan kata lain, mereka ini bukan calon yang diajukan oleh partai.
  • Di Kabupaten Magelang, dua calon bupati yang beradu memiliki nama yang persis sama Zaenal Arifin vs Zaenal Arifin. Nope, bukan kembar atau saudaraan, lho. Sebelumnya, Zaenal Arifin justru berduet dan menjadi Bupati-Wakil Bupati.
  • Di kabupaten Katingan, ada 5 pasangan calon Bupati-Wabup. Nah, kelimanya punya hubungan persaudaraan. Ada yang sepupuan hingga paman dan kemenakan.